Sentuhan Moral Generasi Milenial


Judul               : Kerumunan Terakhir
Pengarang       : Okky Madasari
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tahun              : 2016
Tebal               : 360 hlm; 20 cm
ISBN               : 978-602-03-2543-9

Berkembangnya teknologi mendorong manusia memasuki ruang artifisial dalam bentuk digitalisasi dan visualisasi. Aktivitas manusia direduksi pada sebuah layar kecil bernama televisi, radio, gawai, dan sejenisnya. Sayangnya, perkembangan teknologi mutakhir itu tidak dibarengi dengan kedewasaan pengguna. Realitas asli pun kehilangan substansi, tergantikan oleh realitas buatan atau hiperealitas jika meminjam istilah Jean Baudrillard. Wajah kultural masyarakat milenial mampat dalam ruang simulakra. Etika digerus estetika, fakta dikalahkan citra, dan esensial dibabat artifisial.

Melalui novel Kerumunan Terakhir, Okky Madasari menyalakan alarm peringatan. Menjejaki tiap etape cerita, pembaca akan tahu, bahwa masalah yang ditampilkan dalam novel berangkat dari kisah nyata. Mulai dari mengukur eksistensi diri melalui liker dan jumlah followers, kepercayaan buta pada apa yang ditampil di layar, dan kekerasan verbal di dunia maya. Kegagapan para tokoh dalam novel menjadi sajian utama yang patut disimak serius.

Jayanegara didaulat sebagai tokoh utama cerita yang mewakili persoalan manusia milenial. Jaya adalah seorang pemuda yang bernasib sial di dunia nyata. Seorang mahasiswa yang tidak lulus kuliah, penakut, dan pengangguran. Persentuhannya dengan teknologi, khususnya jejaring sosial, merubah kehidupan Jayanegara yang berambisi meraup perhatian. Melalui akun bernama Matajaya, Jaya dikenal sebagai pria yang hebat, seorang ahli beladiri, pemain film, dan fotografer terkenal di New York. Ia pun menjadi sosok yang terkenal, hebat, dan dihujani banyak acungan jempol.

Dalam banyak kajian psikologis, eksistensi manusia berbanding lurus dengan kebahagiaan. William Glasser dan Abraham Maslow, dua tokoh psikolog pun sepakat menempatkan “Love and Belonging” sebagai kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi. Sayangnya, menjejaki tangga eksistensi harus dibumbui dengan kebohongan dan citra. Dan parahnya, banyak orang yang percaya. Kita bisa saksikan, kasus-kasus kriminal seperti penipuan, pelecehan seksual, bahkan pembunuhan dijembatani oleh kepercayaan buta pada realitas citraan tersebut.

Sentuhan Moral
Okky jeli melihat fenomena kejumudan berpikir generasi milenial sebagai buah ketergantungan diri pada teknologi yang memudahkan banyak hal. Kemalasan berpikir itu berujung pada tindakan-tindakan yang reaktif, lompatan logika, falasi, dan merasa paling benar sendiri. Tiap kali ada isu sensitif yang berhembus—entah benar atau salah—orang-orang ramai bereaksi, menyebarkan, dan tidak sungkan menghina. “Menghajar dengan tangan adalah kekerasan, sementara menghajar dengan kata-kata adalah kebebasan” (hal. 179)

Sisi gelap teknologi juga menjangkiti koran dan pemberitaan. Koran daring (online) bak cendawan di musim hujan karena kemudahan yang ditawarkan teknologi mutakhir. Setiap orang menjadi produsen informasi demi mengeruk keuntungan. Okky menyoroti semakin merebaknya media daring yang mengeksploitasi informasi yang vulgar, dangkal, banal, dan seksual. “Yang muncul di baris pertama pencarianku justru koran-koran online. Aku segera membukanya. Sejak kapan ada gambar-gambar porno di tempat seperti ini?” (hal. 346)

Novel ini mengingatkan pada buku terkenal karya futurolog John Naisbitt berjudul High Tech, High Touch (2001). Kecanggihan dan kemajuan teknologi seharusnya dibarengi dengan sentuhan moral dan nilai-nilai kemanusiaan yang juga tinggi. Tanpa itu, sebuah teknologi justru akan menjadi senjata penghancur yang mengerikan. Sejarah mencatat, penemuan teknologi atom oleh Alfred Nobel yang dicita-citakan untuk menunjang kehidupan manusia justru dipergunakan untuk membinasakan manusia atas nama eksistensi sebuah negara.


Melalui novel ini, kita diajak untuk merefleksikan ulang hubungan manusia dengan teknologi. Bukankah teknologi dicipta untuk memperbaiki kehidupan manusia? Kita patut berduka jika yang terjadi justru sebaliknya.


Termuat di Solopos, 4 Desember 2016

Melawan Identitas Tunggal


Judul               : Kekerasan dan Identitas
Pengarang       : Amartya Sen
Penerbit           : Marjin Kiri
Cetakan I        : Februari, 2016
Tebal               : i-xxii + 242 hlm, 14x20,3 cm
ISBN               : 978-979-1260-54-1

Identitas tunggal yang diagung-agungkan telah banyak menciptakan konflik komunal di berbagai belahan dunia. Dari konflik warga Hutu dan Tusti di Rwanda, Serbi dan Albania, hingga Tamil dan Sinhala di Srilanka. Di Indonesia juga pernah terjadi konflik komunal antara suku Dayak dan suku Madura. Kejadian-kejadian getir itu menggerakkan hati Amartya Sen untuk membuat tulisan-tulisan dan berceramah sebagai usaha menghentikan konflik komunal berbasis identitas tunggal.

Buku Kekerasan dan Identitas menjadi pengejawantahan niat Sen menghentikan konflik di masa depan. Sen menjadi saksi pembantaian tak beradab saat konflik agama antara Hindu dan Muslim. Mereka yang pada bulan Januari adalah bagian dari umat manusia secara umum, pada bulan Juli tiba-tiba berubah menjadi kubu Hindu yang kejam dan Muslim yang garang. Digerakkan oleh para komandan pembantaian, ratusan ribu nyawa melayang di tangan orang-orang yang membunuh orang lain atas nama “kelompok kami.” (hal. 4)

Sen membedah dua kesalahan mendasar yang kerap dilakukan manusia dengan identitasnya. Pertama, persepsi tentang adanya ketunggalan identitas yang mengaburkan kodrat manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki kompleksitas relasi dengan sesuatu di luar dirinya. Kedua, persepsi bahwa identitas adalah temuan, meski kenyataannya adalah pilihan.

Sen mengambil Muslim sebagai contohnya. Pasca teror di menara kembar WTC, orang beridentitas Muslim seolah disudutkan dengan mengidentikkan Muslim sebagai terorisme. Terkait hal itu, Sen menulis: “Saat ini penting sekali untuk mencermati perbedaan antara (1) memandang kaum Muslim semata-mata – atau terutama – dalam kerangka keIslaman mereka, dan (2) memahami mereka secara lebih luas dalam kerangka afiliasinya yang beragam (hlm. 91)

Tesis Sen sekaligus menolak tesis yang diajukan Samuel Huttington mengenai benturan antarperadaban. Menurut Huttington, Islam dan Barat adalah dua entitas peradaban yang berseberangan. Sedangkan Sen melihat, pokok identitas tidak sekadar pembakuan atas nama agama, suku, atau kelompok. Ada peran-peran kekuasaan yang membuat sengketa tak mudah dijelaskan, tak sekadar disebut sebagai benturan antarperadaban.

Kekerasan yang dipicu oleh identitas tunggal diboncengi keinginan untuk mengokohkan diri sebagai yang terbaik daripada yang lain. Sen mewanti-wanti agar manusia tidak terjebak dalam penghambaan berlebih pada identitas tunggal yang absolut. Pemahaman akan identitas harus digali lebih mendalam dan komprehensif.

Meski begitu, tidak serta merta dapat disimpulkan bahwa akar konflik semata-mata identitas. “Dalam konteks perjuangan perdamaian global, kita mesti memahami secara jernih bagaimana kemiskinan, keterampasan hak, pengabaian, serta penghinaan sebagai imbas dari asimetri kekuasaan. Konfrontasi didasarkan oleh kekecewaan terhadap orang-orang (dari) kalangan atas dalam suatu dunia yang penuh dengan pemilahan identitas.” (hal. 185)

Gagasan Amartya Sen sangat relevan bagi perkembangan dunia saat ini, khususnya Indonesia. Keanekaragaman suku, budaya, dan agama menyimpan potensi konflik komunal seperti di India atau Rwanda. Apalagi, telah terjadi ketimpangan ekonomi dan sosial yang besar di dalam masyarakat Indonesia. Buku ini bisa menjadi pencerdasan bagi banyak pihak agar memahami identitasnya secara mendalam sehingga konflik komunal tidak terjadi lagi.


Sudah terlalu banyak korban yang mati sia-sia hanya karena ingin menunjukkan kelompok siapa yang paling hebat. Padahal, segalanya tetap absurd. Kekuasaan hanya dimiliki segelintir orang saja. Kedamaian dunia adalah keniscayaan, selama tak ada salah satu golongan pun yang merasa dirinya lebih unggul daripada liyan.


Radar Surabaya, 13 November 2016

Petualangan Membaca Jati Diri


Judul               : Supernova Intelegensi Embun Pagi
Pengarang       : Dee Lestari
Penerbit           : Bentang Pustaka
Tahun              : 2016
Tebal               : xiv + 710 hlm; 20 cm
ISBN               : 978-602-291-131-9

Theodor Adorno pernah berujar: “Salah satu hal yang harus ada dalam industri budaya adalah light. Orang akan cenderung mengambil jarak saat harus mempelajari sesuatu yang berat. Mengubah sesuatu yang berat dalam bentuk cerita novel menjadi alternatif yang bisa ditempuh. Novel membentuk dan mengubah sesuatu yang berat menjadi light. Mudah diterima dan ringan untuk dinikmati.

Itu pula yang dilakukan oleh Dewi “Dee” Lestari dalam menggarap Supernova. Dee memasukkan berbagai unsur dan disiplin ilmu, seperti filsafat, adat budaya, kosmopolitan, sains, dan spiritualitas dalam novelnya. Berbagai unsur dan disiplin ilmu itu tidak bisa dikatakan mudah untuk dipelajari orang awam. Dee berhasil meramu, meracik, dan menyuguhkannya dengan apik sehingga pembaca menerimanya dengan light. Karyanya bahkan laku keras di pasaran.

Seri terakhir dari heksalogi Supernova berjudul Intelegensi Embun Pagi (IEP) menjadi saksi kehebatan Dee mengolah cerita dari berbagai unsur dan disiplin ilmu. Sebanyak 10.000 eksemplar ludes terjual di masa pre-order cukup menjadi bukti novel Supernova Intelgensi Embun Pagi (IEP) disukai dan dinanti pembaca.

Berbeda dengan serial sebelumnya yang hanya fokus pada satu tokoh utama, Supernova IEP mengharuskan Dee menyulam cerita dari banyak tokoh dengan karakter dan sifat yang berbeda-beda. Sudut pandang pertama yang sempit diubah menjadi sudut pandang ketiga yang luas. Butuh konsistensi logika yang padu, daya imajinasi yang kuat, dan konsentrasi tinggi untuk menghasilkan karya yang meramu beragam disiplin ilmu. Tak heran jika Dee membuat blingsatan para kritikus sastra karena karya-karyanya terbilang langka di Indonesia.

Supernova IEP melanjutkan cerita petualangan para Peretas di seri-seri sebelumnya. Di seri ini, dari berbagai lokasi yang berbeda, keterhubungan para tokoh perlahan terkuak. Banyak tokoh yang memunculkan kejutan dalam serial ini. Tokoh-tokoh yang sebelumnya hanya sebatas figuran berubah menjadi tokoh yang punya peran penting. Identitas dan misi para Peretas pun semakin jelas. Amnesia yang sebelumnya menggelayuti para tokoh perlahan hilang. Pembaca serial Supernova pun semakin memahami konstelasi keseluruhan cerita.

Salah satu ramuan disiplin ilmu yang kentara jelas dalam novel Supernova ini adalah filsafat Buddha. Hal tersebut dibuktikan dengan penggunaan istilah, seperti dhyana, mala, samsara, sunyavima, antarabhava. Tokoh-tokoh dalam heksalogi Supernova merupakan representasi sebuah siklus kehidupan. Para Peretas adalah individu yang dalam tiap siklus reinkarnasi akan mengalami amnesia. Mencapai kesadaran (consciousness) adalah tugas utama para Peretas. Kelompok Infiltran adalah kelompok pembebas yang bertugas untuk membantu Peretas mencapai misi mereka. Sedang kelompok Sarvara (penjaga) bertugas menjaga Peretas agar tetap dalam kondisi amnesia. Pendek kata, Infiltran adalah malaikat yang membantu manusia menuju nirwana, sedangkan Sarvara bak setan yang bertugas menghalangi.

Konsep renkarnasi dalam novel ini senada dengan kajian filsafat Buddha. Kematian bukanlah akhir dari kehidupan manusia. Manusia akan lahir dan lahir kembali dalam bentuk yang berganti-ganti. Terus begitu sampai akhirnya kesadaran akan kebersatuan dengan alam semesta dan Realitas Yang Satu tercapai (Takwin, 2003: 70)

Jatidiri
Novel ini bukan sekadar cerita petualangan kelompok Sarvara, Infiltran, dan Peretas. Fokus novel ini pun bukan soal cinta, persahabatan, atau kekeluargaan. Kisah-kisah itu sebatas kendara untuk mengantarkan pesan utama ke hadapan pembaca. Novel ini adalah rajutan analogis yang menyuarakan satu wacana penting: pencarian jati diri manusia. Para Peretas adalah representasi dari kebanyakan manusia di dunia nyata yang tidak menyadari jati dirinya. Dikisahkan para Peretas adalah manusia yang mengalami amnesia. Mereka harus berjuang untuk menemukan jati diri mereka sendiri, menyibak kabut amnesia yang menggelayuti.

Dalam heksalogi Supernova, konsep ajaran Zen Buddhisme begitu terasa. Zen berarti meditasi. Namun, meditasi di sini bukan sekadar duduk berjam-jam. Zen adalah jalan untuk memahami kedirian sejati manusia, melepaskan segala belenggu duniawi yang mengikat manusia. Segala hal yang bersifat duniawi akan berubah. Zen mengajak orang melakukan refleksi diri untuk mencari “hal yang tak berubah”. Melepaskan diri dari jebakan konsep, identitas tunggal, dan bahasa yang seringkali memperdaya manusia.

“Inilah kebenaran. Daging yang membungkusmu adalah penjaramu. Memenjarakanmu dalam ilusi keterbatasan. Kamu yang sesungguhnya jauh lebih besar daripada yang kamu tahu. Tidak ada kejahatan yang lebih keji daripada pengelabuan jati diri. (hal. 618)

Wacana tentang pencarian jati diri yang disuarakan oleh novel ini sangat relevan dengan keadaan sekarang. Di tengah arus modernisasi yang mengglobal, jati diri manusia semakin tergadaikan. Manusia seolah mengalami amnesia. Lupa akan rasa cinta dan kemanusiaan.

Sekarang, sangat mudah menemukan orang membunuh atas nama agama, atas nama ras, atas nama kelompok, atas nama harga diri, atas nama kebenarannya sendiri. Manusia menjadi amnesia karena terjebak dalam konsep, bahasa, dan ilusi yang dibentuk oleh kekuasaan dan ambisi. Secara keseluruhan, petualangan dalam serial Supernova menonjolkan satu pesan, yakni membaca jati diri sehingga mampu lepas dari belenggu penderitaan dunia.

Novel ini menjadi karya dari seniman yang menginginkan kehidupan lebih baik. Sah-sah saja penulis menggunakan perspektif dan kajian apa untuk membangun cerita dalam novel. Sejauh itu mampu memberikan nilai tambah pengetahuan kepada pembaca, entah memakai Budhis, Hindu, atau Islam, tetap tidak jadi masalah. Toh, tujuan sebenarnya adalah edukasi bagi masyarakat luas tanpa tendensius membenarkan perpekstifnya sendiri.

Menyitir Antonio Gramsci, ketika para politisi dan akademisi gagal mengarahkan sekelompok manusia untuk mencapai kondisi yang diinginkan, sudah menjadi tanggung jawab para seniman untuk memanggulnya. Heksalogi Supernova menjadi kontribusi kerja Dee Lestari yang menginginkan masa depan lebih damai.

Kompas, 29 Oktober 2016

Harapan Harus Diperjuangkan


Judul               : Lelaki Tua dan Laut
Penulis             : Ernest Hemingway
Penerjemah      : Sapardi Djoko Damono
Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun terbit     : 2016
Tebal               : vi + 102 hlm.; 14 x 21cm
ISBN               : 978-602-6208-88-0

Sebagaimana udara, harapan adalah faktor terpenting dalam kehidupan manusia. Tidak saja sekadar hidup, dengan harapan manusia menghidupi hidup itu sendiri. Aku berharap, maka aku ada! Tanpa harapan, manusia tak lebih dari seonggok daging tanpa arti.

Begitu pesan yang bisa kita petik dari Novel Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway. Novel berkisah kehidupan Santiago, lelaki tua yang berprofesi sebagai nelayan. Umur yang tak lagi muda, tubuh yang tak lagi kekar, dan produktivitas menangkap ikan yang mulai menurun,  sama sekali tak memadamkan api pengharapan Santiago. Selama delapan puluh empat hari melayarkan perahu, tak satu ekor pun ikan berhasil ditangkap. Oleh masyarakat setempat, ia dijuluki salao, yang berarti bentuk terburuk dari ketidakberuntungan.

Ketidakberuntungannya yang mengenaskan bahkan membuat sahabat sekaligus murid mudanya, Manolin dilarang belajar dengan dirinya. Manolin disuruh orang tuanya mencari nelayan yang jauh lebih berhasil. Namun Manolin memilih bersetia. Tetap mengunjungi gubuk Santiago setiap malam, mengangkat peralatan nelayannya, memberi makanan, dan menjadi teman membicarakan bisbol Amerika.

Sisi humanisme diangkat, menghadirkan kisah manusia yang menolak ditaklukkan oleh nasib. Eksistensi diri sebagai manusia menguatkan keberanian Santiago untuk menghidupkan kembali hidupnya. Pergumulan ke dalam diri mencuatkan satu keyakinan, bahwa nasib tak selalu berasal dari langit, pakem dan tak bisa diubah. Nasib juga berasal dari dalam bumi, dapat diubah jika usaha dan harapan dipintal menjadi satu. “Manusia tidak diciptakan untuk ditaklukan”, ujarnya. (hal. 70). Santiago kembali membentangkan layar perahu demi membuktikan dirinya masih bisa menangkap ikan.

Di hari ke delapan puluh lima, ketika ia mencoba sekali lagi peruntungannya di lautan, melayari Gulf Stream di Samudera Atlantik sendirian, umpannya disambarkan ikan. Tak tanggung-tanggung, ikan tersebut berjenis marlin berukuran raksasa. Santiago senang sekaligus susah. Senang, sebab ikan marlin ini akan menjadi bukti bahwa ia tetap nelayan hebat. Susah, karena bertarung melawan ikan marlin dengan ukuran dua-tiga kali lebih besar dari perahunya bukan soal gampang. Berhari-hari, Santiago berjuang sendiri menaklukkan ikan marlin tersebut. Tanpa bekal makanan yang cukup, persiapan seadanya, beberapa botol air minum yang kian menipis, dan seonggok harapan di dalam hatinya.

Novel Lelaki Tua dan Laut adalah karya paling fenomenal milik Ernest Hemingway. Karya sastra yang ditulis tahun 1951 ini meraih penghargaan paling prestise di dunia: Penghargaan Pulitzer tahun 1952 dan Penghargaan Nobel Sastra tahun 1954. Kepiawaiannya menarasikan novel tersebut mempertegas keulungan literatur Hemingway. Gaya penulisannya yang datar, tanpa metafor yang meledak-ledak, membawa pengaruh kuat di dunia fiksi abad 20. Hemingway pun menuturkan, “Saya mencoba untuk menciptakan lelaki tua yang sesungguhnya, anak laki-laki sesungguhnya, laut yang sesungguhnya, ikan yang sesungguhnya, dan hiu yang sesungguhnya.” (Time, 7 Juli 1999).

Pengalaman sebagai jurnalis dan reporter di North American Newspaper Alliance mengasah kejeliannya melihat realita, dan menumpahkannya dalam cerita fiksi. Konon, menurut para kritikus sastra, novel ini banyak terinspirasi dari kisah Gregorio Fuentes. Seorang nelayan asal Kuba yang menjadi pekerja di kapal pribadinya. Hobi Hemingway berlayar dan memancing ikan di atas kapal yacht sangat membantunya menuliskan kehidupan nelayan, suasana dermaga, dan latar lautan secara detail. Mata jurnalistik selalu dituntut meneropong titik cerita yang kuat dan menarik. Dan Hemingway berhasil melakukannya di novel ini.


Hemingway membawa pembaca melayari alur cerita yang bergerak lamban, dengan kata-kata yang nyaris tanpa majas. Pergulatan konflik dalam diri Santiago begitu nyata, melalui dialog-dialog dengan dirinya sendiri di atas perahu. Kedetailan Hemingway menuliskan kata demi kata dalam cerita membangun sensasi ketegangan. Kisah kegigihan Santiago menghadirkan pembelajaran, bahwa harapan akan menyalakan secercah kebahagiaan, seberapa pun suram kehidupan ini. Novel Lelaki Tua dan Laut menjadi semacam perluasan dari kata-kata terkenalnya: “Hidup ini indah dan layak untuk diperjuangkan.” 

Solopos, 17 Juli 2016

Adat Toraja Melawan Modernisme



Judul               : Puya ke Puya
Penulis             : Faisal Oddang
Terbit               : Oktober 2015
Jumlah             : xii + 218 hlm., 13,5 x 20 cm
Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia
ISBN               : 978-979-91-0950-7

Mengangkat lokalitas dalam novelnya, Faisal Oddang berhasil mengantar Puya ke Puya menjadi pemenang IV sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta. Bercerita tentang perbenturan adat dengan modernitas, kisah novel ini dimulai dari kematian Rante Ralla, ketua adat Kampung Kete Kesu, Toraja.

Akibat kematian tersebut, keluarga meski mengadakan upacara rambu solo yang megah untuk mengantar sang mayat ke puya (surga). Hidup lama di Makasar membuat putra satu-satunya, Allu Ralla menolak mengadakan upacara tersebut dan memakamkan ayahnya di Makasar. Hal itu mendapatkan protes keras dari pihak keluarga besar.

Bagi Allu, kebudayaan adalah produk manusia, dan relevansinya dengan zaman sangatlah penting sebagai acuan untuk mempertahankan sebuah tradisi yang merupakan bagian dari kebudayaan. “… saya pikir zaman sudah tidak relevan dengan yang kalian pertahankan,” (hal. 20)

Di sisi lain, masuknya perusahaan tambang di Tanah Toraja memunculkan persoalan bagi keluarga Allu Ralla. Tongkokan (rumah adat Toraja) milik Rante Ralla menghalangi akses menuju lokasi tambang. Berbagai upaya membujuk pihak keluarga untuk menjual tanah warisan tersebut berujung gagal. Akhirnya, pihak perusahaan bersekongkol dengan kepala desa. Anak kepala desa, Malena adalah mantan kekasih Allu. Meski sudah berpisah lama, tetapi Allu masih menyanyangi Malena dan berniat menikah dengannya.

Niat menikahi Malena ditentang oleh Tina Ralla, ibu Allu sebab upacara rambu solo belum terlaksana. Sedang Malena terus mendesak agar Allu segera menikahinya. Jalan pintas pun ditempuh. Demi menunaikan janji kepada Malena, Allu mencuri mayat bayi yang dikubur di pohon tarra. Harga tulang belulang jasad bayi sebesar 50 juta. Selain itu, untuk menyelesaikan upacara rambu solo ayahnya, Allu diam-diam menjual tanah warisan ayahnya tersebut.

Persiapan rambu solo segera dilaksanakan. Tepat di hari upacara, pihak perusahaan datang dengan alat berat untuk meratakan tongkonan yang menghalangi akses jalan. Keluarga besar pun menggelar rapat. Di rapat tersebut, rahasia kematian Rante Ralla yang disimpannya lama akhirnya dibuka. Tentu pihak keluarga besar marah dan berniat menghancurkan perusahaan.

Perang warga melawan perusahaan menjadi akhir yang tragis. Warga asli yang mendukung upaya balas dendam kemudian beramai-ramai membakar lokasi penambangan. Konflik terbuka antara warga Kampung Kete Kesu melawan pihak tambang tak terelakkan (hal. 205). Aksi saling bunuh dan bakar berujung kematian besar di kedua belah pihak.


Di sekujur novel, idiom lokal beterbaran, seperti ambe, indo, puya, tarra, passiliran, rambu solo, aluk, dan lain sebagainya. Novel ini memberi warna tersendiri bagi lembar kesusastraan Indonesia. Lokalitas Toraja disodorkan kepada pembaca bisa diduga sebagai wujud melawan dominasi Jawasentrisme. Jadi, pembaca tak sekadar tahu bahwa Indonesia hanyalah Jawa, ada pula Toraja. 


Koran Jakarta, (14 Juli 2016)

Gegar Budaya Toraja Jawa


Judul              : Pertanyaan kepada Kenangan
Pengarang     : Faisal Oddang
Penerbit         : Gagas Media
Tahun             : 2016
Tebal              : xii + 188 hlm, 33 x 19 cm
ISBN               : 979-780-853-2

Gegar budaya (culture shock) menjadi fenomena sosiologis yang tidak bisa dihindari di negara kita, Indonesia. Keanekaragaman budaya yang tersebar dari ujung Barat sampai Timur menyimpan eksotisme, sekaligus konflik. Meski tidak dalam skala makro, gegar budaya bisa terjadi dalam hubungan skala kecil: orang per orang. Gegar budaya itulah yang kemudian dijadikan puncak konflik dalam novel Pertanyaan kepada Kenangan karya Faisal Oddang.

Novel ini berkisah tentang seorang perempuan Jawa bernama Rinailah Rindu yang dihantui kenangan kelam. Rencana pernikahannya dengan Lamba Dondi tiga tahun silam akhirnya karam. Pasalnya, Lamba yang asli Toraja tetap memegang teguh tradisi budaya setempat. Upacara rambu solo untuk mengantar arwah ayahnya ke puya (surga) butuh biaya ratusan juta. Tak ayal, pernikahan itu harus ditunda, namun Rinailah Rindu tidak terima. Ibu Rinai yang sudah tak berumur panjang lagi ingin putrinya segera menikah. Namun, upacara rambu solo menggagalkan impian ibu Rinai yang akhirnya meninggal dunia sebelum melihat Rinai melangsungkan pernikahan.

Berlatar Toraja, kisah asmara Rinai diwarnai beragam budaya dan pariwisata Toraja. Desain sampul buku dengan motif ukiran khas Toraja sudah menunjukkan dominasi budaya dalam buku tersebut. Macam-macam eksotisme budaya Toraja berhamburan mendukung cerita utama. Tongkonan, rambu solo, pohon Tarra, puya, tau-tau, mappasilaga tedong, adalah segelintir contoh khazanah budaya yang dihadirkan jelas kepada pembaca novel ini. Selain unsur-unsur budaya yang telah disebutkan di atas, bentang alam untuk menggaet pembaca mengenal pariwisata juga membanjiri novel ini. Toraja International Festival, destinasi bawah laut Selayar, Bulukumba, Pantai Bira, Lovely December, dan masih banyak lagi digambarkan memiliki keindahan yang perlu dijelajahi.

Kecenderungan memakai latar kebudayaan sendiri bisa dimaklumi, bahkan keputusan yang menguntungkan bagi Faisal. Latar kebudayaan Toraja yang belum banyak diangkat dalam karya sastra menjadi ciri khas yang unik. Berbeda dengan latar Jawa yang telah banyak dieksploitasi. Cerpen Tubuh Tarra dalam Rahim Pohon yang ditasbihkan menjadi pemenang cerpen Kompas 2014 pun tidak terlepas dari kejelian penulis mengangkat latar dan budaya Toraja dalam karyanya.

Kecenderungan Faisal mengunggulkan budayanya sangat kentara di novel ini. Dalam salah satu percakapan, Rinai menyindir budaya Toraja: “Kasihan mereka yang tidak memiliki uang. Adat menyusahkan mereka. Bayangkan saja, harga kerbau toraja sampai ratusan juta per ekor,” (hal.39)

Gegar budaya yang diungkapkan Rinai dan mungkin para pembaca dari luar Toraja itu disikapi langsung oleh Oddang melalui tokoh Lamba, “Justru dengan besarnya biaya rambu solo, semangat kerja orang Toraja semakin besar pula. Kupikir itu tantangan dan dorongan semangat,” (hal. 39)

Sayangnya, dalam novel yang menggunakan bahasa populer dan mudah dipahami tersebut, pembaca harus sedikit tersedak saat menikmatinya. Banyak kesalahan ketik mengganggu kenikmatan membaca kata demi kata. Kata people ditulis poeple, jomblo ditulis jomlo, tetapi ditulis tatapi, depan ditulis dapan, mendengar ditulis mendegar. Untuk sekaliber penulis cerpen terbaik Kompas 2014, kesalahan tulis yang banyak seharusnya bisa dihindari. Terlepas dari kekurangan tersebut, novel ini layak untuk dinikmati.

Usaha Faisal membawa budaya dan pariwisata daerahnya ke lembar kesusastraan Indonesia mudah dipahami maksudnya. Penciptaan karya berlatar Toraja bisa dikatakan sebagai wujud melawan dominasi Jawasentrisme. Ketika pembangunan fisik dan eksploitasi budaya lebih didominasi Jawa, Oddang hadir untuk memunculkan Toraja sebagai salah satu keanekaragaman Indonesia yang tak kalah eksotis. Jadi, pembaca tak hanya menganggap Indonesia adalah Jawa. Ada pula Toraja dengan segala keunikannya.

Dimuat di Koran Madura (10 Juni 2016)