Lagi lagi ngerokok. Sepi bro di sebuah rumah di Sragen. Tadi malam sebelum berangkat ke Sragen, rumah sekaligus tanah tempat klan Muh. Sirman hadir ke dunia, saya ingin kencan dengan wanita idaman. Namun gagal karena ia ada acara reuni. Sayang sekali. Kehadiranku di Sragen karena ayah sedang reuni dan aku juga ditinggal wanita itu untuk reuni pula. So, sepi jadinya.
Sebanyak 8 anak yang kini tinggal 6 karena sudah dua tahun berturur-turut kehilangan adalag orang-orang yang menarik sekaligus menghadirkan banyak cerita.
Hubungan tanah ini dan rumah ini sangat dekat dengan saya. Jauh lebih dekat lagi karena memang rumah dan tanah Sragen adalah ruang bermain bagiku, tempat tumbuh keintelektualan kakakku, dan menjadi tanah penempaan diri ayahku yang bisa dibilang orang Jawa tulen namun dalam dirinya prinsip Jepang mengalir.
Saya jadi ingat Film The Last Samurai. Dalam salah satu dialognya yang diperankan Tom Cruise, aktor kaya sejagat itu, mengatakan akan kekhasan dan keunikan kehidupan di sebuah kampung samurai. Dia-Tom Cruise yang berperan sebagai orang asing yang disewa untuk tujuan kudeta politik Kaisar Jepang justru menjadi tawanan di desa para samurai tinggal. Ia mengagumi kedisiplinan para samurai yang sedari bangun hinggap tidur, sedari matahari terbit hingga terbenam mendedikasikan dirinya dalam kedisiplinan dan semangat loyalitas kerja dan berkehidupan. Segalanya sambung memyambung, segalanya tampak asri, segalanya, baik manusia dan alam hidup bergandengan saling menyokong satu sama liyan.
Boleh jadi, saya masih bingung mencari hubungan Wonogiri dan Sragen. Tempat saya lahir dan besar dengan tempat saya mendapati pelajaran hidup dan kebebasan. Hubungan Wonogiri dan Sragen bisa jadi karena kabupaten yang pernah aku bela di kompetisi olahraga Karate itu menjadi supliyer air bagi kabupaten tandus Sragen. Untuk beberapa bagian di Sragen memang agak terlihat gersang, panas dan penuh debu. Tapi di situ uniknya. Saya melihat bahwa Sragen adalah jodohnya Wonogiri. Keluarga nuklirku terbentuk dari pertemuan antara Wonogiri dan Sragen, lalu kakakku juga menghadirkan buah hati dari hubungan cintanya dengan wanita dari Sragen. Lantas diriku? Masih tanda tanya besar.
Kemarin saat sholat Id aku mendapati sebuah koran yang dijadikan alas palinh bawah, bersentuhan dengan tanah sebelum di atasnya digelar sajadah agar debu pelataran masjid tidak langsung menempel di sajadah. Koran Solopos adalah koran yang bersegmen karisidenan surakarta. Di dalam surat kabar Solopos selalu dihadirkan rubrik setiap kabupaten. Saat itu aku melihat rubrik Wonogiri dan Sragen dalam satu lembaran. Sedangkan sukoharjo, solo kota, boyolali, klaten penuh mengisi satu lembar halaman. Pertanyaan yang langsung terlintas di benakku adalah, mengapa Sragen dan Wonogiri jadi satu rubrik di satu lembaran. Mengapa tidak dipisah?
Ouw alasan koran mungkin sederhana, karena baik Wonogiri dan Sragen tidak memiliki cukup berita untuk mengisi satu lembar koran. Aha, artinya bisa jadi baik Wonogiri dan Sragen punya kelemahan dan karenanya mereka berdua bersatu agar menjadi satu kesatuan yang utuh. Walau tidak sebenarnya berbeda.
Itu sama saja dengan jodoh bukan. KAlau ibuku dapat ayah dari Sragen, kakakku dapat istri dari Sragen, lantas aku akan dapat jodoh dari mana? Sragen juga kah? AKu harap iya. Dan aku masih percaya seperti di film Serendipity, kebetulan ini bukan sekadar kebetulan. BAnyak koran yang terletak di masjid namun mengapa aku menemukan itu? Hah, itu adalah tanda-tanda.
Yang pasti, saya masih membawa namamu dalam setiap doaku, walau aku tahu bahwa sebenarnya saat ini kau sudah merencanakan masa depan dengan liyan. Tapi itu kan rencana manusia. Sedangkan aku sedang mencoba berdiskusi dengan Tuhan agar Ia dengan kemahakuasaannya dapat membuatkan aku sebuah rencana agar aku dan dirimu bersatu dan menjadi kesatuan yanh utuh. Saling melengkapi kelemahan sama seperti rubrik di Solopos, rubrik Wonogiri & Sragen.
Ahh, tiba-tiba angin di Sragen menjadi dingin, sedingin hatiku yang barangkali sudah terpatri kepadamu.


0 komentar:
Posting Komentar