Penjajahan Belanda selama bertahun-tahun
terhadap Indonesia, tidak hanya meninggalkan kisah penyiksaan penindasan atau cerita
heroik rakyat Indonesia, namun juga kisah cinta pria Belanda dengan gadis-gadis
Indonesia. Tentu bukan hal mudah bagi para jenderal dan pasukan Belanda yang
bertugas di negeri yang nun jauh dari tanah airnya. Hasrat individual berupa
keinginan yang dikatakan Freud sebagai kenikmatan tertinggi jasmani manusia
bernama hubungan seksual memaksa atau mungkin menjadi takdir bertemunya cinta
antara penguasa dan yang dikuasai. Antara pria Belanda dengan gadis lokal
Indonesia. Meski terkadang kebanyakan cinta itu berakhir seperti peribahasa
“habis manis, sepah dibuang” tapi benih manusia telah tertanam dalam surga
rahim para wanita Indonesia. Anak-anak hasil pertalian dua ras berbeda ini dikaruniai
apa yang dimiliki oleh kedua orang tuanya. Otak jenius ala Barat dengan
tampilan wajah pribumi yang cantik.
Salah satu buah cinta antara pria Belanda
dengan gadis Jawa adalah Margaretha Zelle atau yang lebih bangga menyebut
dirinya dengan nama Mata Hari. Wanita peranakan Belanda Jawa ini digambarkan
oleh Remy Sylado dalam karyanya berjudul Namaku
Mata Hari dengan latar pada akhir 1870-an hingga awal 1900.
Mata Hari lahir dari pasangan pembuat topi
asal Belanda dan istri dari jawa pada 1876. Beranjak dewasa, kecantikan dan
kepintarannya nampak jelas. Namun sayangnya, gadis yang menyukai tarian Jawa ini
bertemu Kapten Hinda Belanda, Rudolf MacLeod yang memiliki kebiasaan buruk.
Selingkuh dan berwatak kasar.
Hasil hubungan yang tidak bertahan lama
dengan MacLeod tersebut, Mata Hari dikarunia dua orang anak. Sulung lelaki
tidak berumur panjang karena lahir cacat, kekurangan fisik. Sementara si bungsu
dititipkan pada pihak keluarga pasca perceraian kedua orang tuanya.
Pasca cerai dengan MacLeod, Margaretha
pergi ke Paris dan mengubah namanya menjadi Mata Hari. Ia memperkenalkan
dirinya di Paris dengan nama Mata Hari. Sebuah kata yang sulit diucap oleh
orang Paris yang semakin menambah kesan kemisteriusannya. Selama beberapa
tahun, Mata Hari menjadi selebriti kota sebagai penari erostis untuk menyambung
hidup hingga pecah Perang Dunia I. Kehidupan Mata Hari berubah pula seiring
pecahnya PD I. Meski sempat pindah ke negara netral yakni Belanda yang bebas
dari perseturuan Jerman versus Perancis, Ia akhirnya ikut terlibat juga dalam
arus perang di kedua pihak.
Paul Dowswell dan Fergus Fleming dalam True Spy Stories menuliskan Mata Hari
bosan dengan kondisi perang. Ia mengeluh karena selama perang, dirinya lebih
banyak berada di rumah. Tidak mampu melakukan berbagai aktivitas seperti
biasanya. Belanda saat itu adalah penonton dari pertarungan akbar yang tercatat
dalam sejarah sebagai salah satu perseturuan paling menegangkan di dunia.
Keadaan seperti itu terlalu membosankan bagi wanita yang sering memanaskan
panggung dengan tarian erostisnya.
Hingga kemudian muncullah Karl Kramer,
atase pers Kosulat Jerman di Belanda yang menggiringnya memasuki gerbang
perang. Ia diminta untuk kembali ke Paris, bergaul dengan para orang
berpengaruhnya menggunakan daya pikatnya yang terlalu erotis.
Mata Hari menerima permintaan tersebut
dengan imbalan yang cukup untuk dirinya. Dalam versi Dowswell dan Fleming,
mereka percaya bahwa sebenarnya Mata Hari menerima permintaan itu hanya karena
penasaran bagaimana menjadi seorang mata-mata.
Pada akhirnya, wanita peranakan Jawa ini
melangkah di dua jalan yang berseberangan, Jerman dan Perancis. Hingga pada
waktunya aksi ini terungkap, ia selalu menyuplai informasi yang dibutuhkan
Jerman tentang Perancis, sekaligus pula menyelam dalam kehidupan kelas elit
Perancis yang punya peran besar.
Tanggal 24 Juli 1917, melalui pengadilan
tertutup militer, ia dinyatakan bersalah melakukan kegiatan mata-mata dan
dijatuhi hukuman mati. Lalu ia berdiri dengan tegak di usia 41 tahun menjemput
ajal. Pada 15 Oktober 1917 eksekusi dilakukan. Regu penembak bersiap dan
memberondongnya. Mata Hari menatap tajam para eksekutor itu. Ia menolak
menggunakan penutup mata saat eksekusi berlangsung. Entah apa yang dipikirannya
saat itu, barangkali ia tidak takut menjemput ajal yang sejengkal lagi di depan
matanya.
Perdebatan masih terus mengalir hingga
saat ini mengenai apakah Mata Hari berada dalam posisi salah atau tidak di
persidangan, apakah ia benar-benar keturunan Jawa atau hanya sekadar pernah
tinggal di Jawa. Pun dengan gaya erostismenya di atas panggung itu. Ia tetap
abadi sebagaimana kemisteriusannya yang masih menyimpan tanda tangan besar.
Sama bertahannya dengan anggapan bahwa ia adalah wanita yang kuat, cantik,
mempesona, dan juga erostis.


0 komentar:
Posting Komentar