Home » » Sakabatou dan Pengembaraan Melupakan Masa Lalu

Sakabatou dan Pengembaraan Melupakan Masa Lalu

Pria bercaping itu duduk di buritan perahu. Bersila, tenang dan seolah sedang merasakan riak-riak air yang terbelah perahu. Langkahnya tenang, dengan caping yang menyimbolkan ketertutupan dirinya dengan lingkungan. Pria itu berambut panjang diikat, memakai kimono untuk laki-laki khas jepang. Di pinggangnya menggantung sebilah samurai.

Himura Kenshin nama pria pengembara itu. Kenshin, sang legenda Hitokiri Battousai mengembara demi menanggalkan masa lalu yang kelam, berdarah dan penuh isakkan tangis orang-orang. Hitokiri battousai adalah sebuah julukan yang secara harfiah dapat diartikan sebagai pembunuh bayaran yang ganas.

Hitokiri sering disewa untuk membantu pasukan berperang atau disewa untuk membunuh seseorang. Kekejaman pada masa feodal Jepang sangat terasa. Hitokiri sangat ditakuti dan sangat sulit untuk dibunuh.

Perjalanan Kenshin sebagai hitokiri battousai berakhir setelah ia melihat kesedihan seorang wanita yang mendapati calon suaminya mati mengenaskan. Isak tangis yang menggaung di antara rinai hujan membuat Kenshin mengutuk dirinya sebagai hitokiri dan pergi dari dunia gelapnya.

Pengembaraan Kenshin ditandai dengan menggores pipi sebelah kiri sehingga membentuk tanda X. Lalu membuang pedangnya. Ia mulai pengembaraan sebagai cara mengatasi trauma yang membayanginya. Dalam perjalanan, Kenshin bertemu dengan Shakku Arai yang akhirnya memberikannya pedang bermata terbalik atau sering disebut Sakabatou.

Perjalanan berlanjut hingga bertemu dengan Kamiya Kaoru—seorang instruktur pedang di sebuah dojo—dan pada akhirnya memutuskan untuk tinggal di dojo Kamiya Kashin, ayah dari Kaoru yang telah meninggal. Kamiya Kashin merupakan dojo dengan semboyan yang menganggap pedang bukan sebagai alat untuk membunuh melainkan untuk melindungi dan membangun kedamaian. Pada akhirnya semoboyan tersebut yang tetap mempertahankan Kenshin dan Sakabatou-nya.

Post Traumatic Stress Disorder

Dalam buku Psikologi Abnormal yang ditulis oleh G.C. Davidson dkk pada tahun 2000, jika berbicara mengenai kekerasan dan trauma, terdapat sebuah istilah yang dikenal sebagai Post Traumatic Stress Disorder (gangguan stress pasca trauma) atau PTSD. Gangguan stress timbul dari sebuah peristiwa yang sangat mengguncang seseorang. Misalnya melihat orang yang dibunuh, disiksa secara sadis, atau rasa bersalah karena telah melukai seseorang dengan sangat kejam.

Secara umum gejala PTSD dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
Pertama, Reexperiencing. Penderita seperti mengalami kejadian traumatis yang pernah dialaminya dulu. Penderita dapat berperilaku mengejutkan, tiba-tiba berteriak, menangis, atau berlari ketakutan.

Kasus ini dialami Kenshin (dalam seri Kyoto Inferno) ketika ia melihat banyak polisi yang mati karena terbunuh oleh anak buah Sishio ketika melakukan operasi penyergapan. Mulai dari istri, anak kecil hingga orang tua korban menangis terisak-isak. Hal itu membuat Kenshin kembali mengenang masa lalu saat seorang wanita menangisi pria yang telah ia bunuh.

Kedua, Hyperarousal. Suatu keadaan waspada yang berlebihan, seperti mudah kaget, tegang, curiga menghadapi gejala sesuatu, benda yang jatuh dianggap sebuah bom dan lain sebagainya.
Dalam hal ini sangat sulit dianalisis karena Kenshin memang sudah memiliki kewaspadaan diri yang tinggi mengingat dirinya adalah seorang petarung yang setiap saat adalah detik kematian jika dia gagal menghindar.

Ketiga, Avoidance. Seseorang akan selalu menghindari situasi yang mengingatkan ia pada kejadian traumatis.

Kenshin menghindari menggunakan pedang biasa di mana mata pedang terletak di depan. Dia memilih menggunakan mata terbalik (back blade) agar tidak ada orang yang terbunuh karena tersayat pedang Sakabatou. Namun saat Kenshin bertemu Sishio, bagian akhir Kenshin akhirnya kembali menjadi seorang pembunuh yang tidak mengenal ampun. Jika bukan karena pedang Sakabatou yang ia gunakan, ia sudah menebas banyak nyawa termasuk Sishio Makoto.

Dalam buku Psikologi Abnormal dijelaskan berbagai model psikoterapi yang dikembangkan untuk mengatasi PTSD. Terapi perilaku, desensitisasi, dan hipnoterapi cukup efektif jika ada kemampuan besar dari klien. Namun dalam kisah Kenshin apa yang membuat ia sembuh adalah perjalanan untuk melupakan masa lalu. Ahli pedang ini memilih untuk meninggalkan pedangnya, menandai pipinya dengan tanda silang. Perjalanannya keluar dari dunia berdarah itu mempertemukannya dengan Sakabatou dan Kamiya Kaoru.

Merenungi Pengembaraan

Sakabatou dan Kamiya Kaoru memberikan energi yang menghimpit traumanya sebagai pembunuh ganas di masa lalu. Sakabatou bukan hanya sekadar pedang bermata terbalik, tapi bagi Kenshin, Sakabatou adalah teman. Sedangkan Kimaya Kaoru adalah seorang yang akan dilindunginya, anak dari Kamiya Kashin dengan semboyan pedang untuk jalan kedamaian bukan membunuh.

Perjalanan merupakan bagian dari terapi yang teramat sunyi. Coba tengok film adaptasi dari kisah nyata, Into The Wild yang juga berbicara soal perjalanan. Atau Vertical Limit yang juga menceritakan seorang anak yang ingin keluar dari luka tewasnya ayah dalam sebuah ekspedisi panjat dinding. Begitu banyak perjalanan ditempuh untuk keluar dari berbagai bentuk himpitan kelam masa lalu. Waltermity dalam The Secret Life of Walter pun harus berpetualang terlebih dahulu sebelum keluar dari perusahaan persnya dan menerima kenyataan bahwa ia tidak lagi mampu lanjut di sistem perusahaan baru.

Tuhan tidak membekali manusia dengan kekuatan untuk merubah masa lalu. Masa lalu tetap dan membekas. Tidak bisa disentuh, apalagi dirubah. Hanya bisa ditatap. Tapi manusia punya kuasa penuh untuk menentukan bagaimana masa depan. Pengembaraan adalah upaya menenggelamkan masa lalu dan membangun masa depan. Melalui pengembaraan, seseorang melangkahkan kaki pergi dan benar-benar pergi dari situasi masa lalu. Dan Kenshin melakukan itu, mendapatkan apa yang oleh orang kebanyakan  harapkan. Punya orang-orang yang dikasihi dan mengasihi.

0 komentar:

Posting Komentar