Home » » Teh Hijau Untuk Sumantri

Teh Hijau Untuk Sumantri

Sumantri terkapar. Badannya remuk dihajar Rahwana. Darah segar muncrat dari tubuhnya. Detik-detik menuju ajal begitu berat dijalani Sumantri. Pandangannya sayu menatap langit. “Bagaimana kakak, rasanya mati perlahan-lahan?” suara itu mendesis di telinga kiri Sumantri yang masih utuh. “Itu yang aku rasakan dulu. Kini, karma telah datang. Dulu, kau menanam benih ini kepadaku. Dan saat ini, benih itu telah berbuah. Kau mati dalam keadaan sama sepertiku dulu,”

Suara itu berhenti sejenak. Mata kiri yang tersisa dari Sumantri mulai meredup. Di antara detik-detik kematiannya, ia mengenali suara itu, Sukrasana.

“Ya. Adikmu yang buruk rupa. Bocah bajang yang dekil dan agak hitam. Yang dulu telah membuat onar taman Sriwedari. Dan kau membunuhku karena rakyat takut pada wajahku?” Sumantri ingat peristiwa puluhan tahun lalu. Dia meminta bantuan Sukrasana memindah Sriwedari sebagai hukuman karena kesombongannya.

“Wajah ini pemberian dewa yang agung! Mengapa kau membunuhku karena itu?” teriakan Sukrasana menggema. Mata kiri Sumantri berpeluh, hujan air mata. Ketampanan dan jabatan telah merenggut nurani Sumantri. Ia menangis.


“Buahmu telah kau petik. Mari kita tinggalkan dunia yang bodoh ini. Di surga sudah menanti teh hijau untuk menemani percakapan kita. Keakraban yang telah direnggut oleh kejamnya dunia manusia,” Mata Sumantri tertutup. Ia dan Sukrasana terbang ke surga.

0 komentar:

Posting Komentar