Sumantri terkapar. Badannya remuk dihajar Rahwana.
Darah segar muncrat dari tubuhnya. Detik-detik menuju ajal begitu berat
dijalani Sumantri. Pandangannya sayu menatap langit. “Bagaimana kakak, rasanya
mati perlahan-lahan?” suara itu mendesis di telinga kiri Sumantri yang masih
utuh. “Itu yang aku rasakan dulu. Kini, karma telah datang. Dulu, kau menanam benih
ini kepadaku. Dan saat ini, benih itu telah berbuah. Kau mati dalam keadaan sama
sepertiku dulu,”
Suara itu berhenti sejenak. Mata kiri yang tersisa
dari Sumantri mulai meredup. Di antara detik-detik kematiannya, ia mengenali
suara itu, Sukrasana.
“Ya. Adikmu yang buruk rupa. Bocah bajang yang dekil dan
agak hitam. Yang dulu telah membuat onar taman Sriwedari. Dan kau membunuhku
karena rakyat takut pada wajahku?” Sumantri ingat peristiwa puluhan tahun lalu.
Dia meminta bantuan Sukrasana memindah Sriwedari sebagai hukuman karena
kesombongannya.
“Wajah ini pemberian dewa yang agung! Mengapa kau
membunuhku karena itu?” teriakan Sukrasana menggema. Mata kiri Sumantri
berpeluh, hujan air mata. Ketampanan dan jabatan telah merenggut nurani Sumantri.
Ia menangis.
“Buahmu telah kau petik. Mari kita tinggalkan dunia
yang bodoh ini. Di surga sudah menanti teh hijau untuk menemani percakapan
kita. Keakraban yang telah direnggut oleh kejamnya dunia manusia,” Mata
Sumantri tertutup. Ia dan Sukrasana terbang ke surga.


0 komentar:
Posting Komentar