Emansipasi
Kini, Dari Terang Menuju Gelap
”The difference between
pretty and beautiful is; Pretty is
temporal–whereas Beautiful is
eternal.”
Menjelang abad ke-20, sebuah demo para perempuan
terjadi di New York City. Di tengah gelombang industrialisasi dan ekspansi
ekonomi, para perempuan berteriak menuntut perubahan. Kondisi kerja yang tidak
manusiawi, gaji rendah, porsi waktu kerja yang panjang, dan tidak adanya
jaminan hidup di New York City membuat para perempuan buruh bersatu memprotes
kondisi itu pada 8 Maret 1857. Namun pengunjuk rasa diserang dan dibubarkan
paksa oleh polisi. Kaum perempuan ini lalu membentuk serikat buruh pada bulan
yang sama dua tahun kemudian. Rekam jejak itu lantas diabadikan sebagai catatan
historis lahirnya Hari Perempuan Sedunia yang diperingati setiap tanggal 8
Maret. Sejak saat itu, perjuangan perempuan terus merambah pada sektor-sektor
lain dengan misi yang sama: menuntut kesejahteraan dan kesetaraan. Upayanya
berhasil, panggung untuk perempuan di berbagai bidang perlahan mulai
didapatkan.
Di Indonesia, Raden Ajeng Kartini didapuk menjadi
pahlawan nasional yang mengudarakan emansipasi wanita. Kartini tidak melawan
industri dan korporasi, bukan pula dengan perlawanan fisik. Kartini menolak
kultur, melawan stigma bahwa perempuan hanya wajib mengurus dapur, sumur, dan
kasur. Kartini melawan dengan membaca dan menulis. Meski Kartini pada akhirnya
tidak bisa melanjutkan sekolah karena larangan ayahnya, namun perlawanan itu
terus dilakukan. Keinginannya untuk terus belajar dilakukan dengan membaca buku
dan majalah. Melalui kawan dari Belanda, beragam majalah kebudayaan, ilmu
pengetahuan, isu sosial, dan perempuan dapat dinikmati Kartini.
Kartini menulis, mengirimkan tulisan-tulisan itu ke
berbagai surat kabar dan majalah di luar negeri. Tidak hanya berbicara tentang
emansipasi wanita, namun juga masalah sosial umum. Surat-surat hasil tulisan
Kartini itu yang kemudian dibukukan oleh Mr. J.H. Abendanon dan diberi judul
“Door Duisternis tot Licht” atau jika dialihbahasakan versi Armijn Pane
menjadi, “Habis Gelap Terbitlah Terang.” Saban tanggal 21 April diperingati
sebagai hari Kartini yang menyimpan pesan emansipasi wanita. Hasilnya,
emansipasi wanita kini mulai menemukan terangnya di Indonesia. Berbagai
panggung, baik politik, ekonomi, pendidikan, bahkan jabatan presiden berhasil
dan pernah diduduki perempuan.
Dua gerakan di atas, meski dengan cara yang berbeda
menyimpan satu pesan yang sama, yakni kesetaraan dan kesejahteraan perempuan.
Dunia yang condong pada sistem patriarkal ini telah berlangsung dalam rentang
waktu yang lama. Di beberapa abad yang lalu, penindasan
terhadap kaum perempuan sangat mudah untuk ditemukan di seluruh dunia. Stigma
“budak seks” atau wanita hanya sebatas menjadi benda yang bisa dipermainkan dan
ditukarkan oleh laki-laki
terjadi di berbagai peradaban. Di Arab misalnya, sebelum Islam
datang, perempuan sudah berada dalam hierarki di bawah laki-laki, bahkan
bayi perempuan halal darahnya untuk dibunuh. Perempuan sudah seperti manusia
tingkat kedua yang haknya tidak sebanyak manusia pertama, yakni laki-laki.
Budaya patriarki
disertai tindakan, stigma,
dan pandangan yang merendahkan terhadap perempuan memunculkan gerakan
perlawanan dengan tujuan untuk menyamaratakan hak dan jender perempuan dengan laki-laki.
Lantas bagaimanakah
nasib perempuan sekarang ini? Masihkah tertindas atau sudah keluar dari stigma
manusia kelas dua? Jika
indikator yang dipakai adalah kebebasan akses atas pendidikan, politik, dan karier dapat dikatakan bahwa apa
yang diperjuangkan telah berhasil terwujud. Namun jika ditilik lebih mendalam
di mana indikator lebih digeser dari indikator baku yang telah ditetapkan
tersebut, apakah benar perempuan sudah
benar-benar merdeka?
Nyatanya perempuan masih tertindas, bukan oleh deru mesin-mesin industri
sebagai buruh. Bukan pula oleh kultur sosial. Perempuan ditindas oleh hasratnya
sendiri. Hasrat yang dibentuk oleh iklan dan pasar agar terus menerus mengejar
ambisi tampil cantik. Perempuan tidak pernah puas akan kecantikannya dan
industri kecantikan terus memelihara ketidakpuasaan itu. Mendudukkan perempuan
hanya sebatas objek pasif. Menindasnya dengan citraan iklan.
Iklan
dan Peran Konstruksi Estetis
Psikis bukanlah barang
kaku, justru ia teramat fleksibel, mudah dibentuk dan menular. Psikis inilah yang akan mempengaruhi
tindakan dan pilihan,
termasuk juga konsep ideal tentang kecantikan seperti apa. Di sinilah peran industri
yang bersekongkol dengan
media mengonstruksi
konsep ideal yang disisipkan melalui berbagai indera untuk membentuk psikis. Konsep
ideal yang akan
disebarluaskan telah disesuaikan dengan tujuan mendatangkan keuntungan bagi industri.
Kebutuhan akan
penghargaan adalah naluri bawaan, namun jalan apa yang akan ia pilih untuk
mendapatkan penghargaan itulah yang berbeda-beda. Oleh industri, jalan menuju eksistensi
bagi perempuan dibentuk
dengan iming-iming kecantikan. Konsep kecantikan seorang perempuan pun dibentuk dan
dicipta sedemikian rupa untuk kemudian dikonsumsi dan diadopsi oleh para perempuan melalui tayangan iklan. Cantik
itu kulit putih bebas bulu, cantik itu kulit yang merona dan bercahaya, cantik
itu alami dari dalam,
dan berbagai tagline iklan lainnya
sesungguhnya membentuk
definisi ideal tentang kecantikan yang harus dijadikan patokan. Secara
implisit, pesan iklan itu menyatakan bahwa perempuan di luar tagline itu tidak cantik. Industri
kemudian menawarkan produk-produk yang harus dibeli untuk mencapai kondisi
ideal tersebut.
Postulat lama bidang
ekonomi milik Kotler tentang hukum supply
dan demand agaknya perlu ditelaah lebih mendalam.
Permintaan (demand) bukan saja
berasal dari dorongan kebutuhan biologis semata, namun kebutuhan juga bisa diciptakan. Ini
sejalan dengan pandangan Steve Jobs yang mengatakan bahwa “banyak orang yang tidak tahu apa yang mereka inginkan sampai Anda
menunjukkan kepada mereka."
Dengan demikian
sebenarnya kebutuhan manusia berupa permintaan telah dikonstruksi dan
diciptakan melalui iklan sehingga memunculkan suatu pilihan, sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi.
Termasuk dalam hal ini adalah produk-produk kecantikan yang malang melintang dalam
bentuk iklan sebagai solusi atas masalah eksistensi dan penghargaan diri di
hadapan liyan.
Di sinilah
putusan-putusan estetis yang muncul dari pemahaman rasional yang diungkapkan
Kant dibantah keras oleh Pierre Bourdieu. Menurut Bourdieu semua putusan murni
hanyalah ilusi. Tidak mungkin putusan estetis itu kosong konsep karena setiap
putusan estetik senantiasa mengambil bentuk putusan hipotetik yang
biasanya—secara implisit—berdasarkan pengakuan standar dari genre tertentu,
atau setidaknya pada suatu model kesempurnaan yang sudah berada dalam ruang
lingkung konsep tertentu (Pramudya, 2012). Termasuk ketika perempuan ingin tampil cantik
dengan mengonsumsi suatu produk pembersih wajah atau pencukur rambut.
Sesungguhnya pilihan untuk
mengonsumsi produk tersebut bukan karena putusan estetis yang murni hasil dari
pemahaman rasional, namun karena ada sistem kapitalis besar yang bekerja merekonstruksi
pemikiran dan tindakan itu.
Budaya Massa dan Simulakra
Sejak kapitalisme dipakai sebagai sistem ekonomi dunia,
terjadi hubungan hierarki
yang berbeda antara kelas borjuis dan proletar. Kapitalisme klasik membangun
tembok besar pembeda antara kaum borjuis dengan proletar melalui simbol-simbol,
tanda-tanda yang ada dalam baju, makanan, selera musik, dan lain-lainnya. Buruh sebagai penggerak proses
produksi dan ekonomi dunia justru hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan.
Karl Marx lalu merumuskan peleburan kelas dalam sistem kerja atau biasa disebut
sebagai paham Marxisme di mana tembok kelas antara borjouis dan proletar
dihancurkan. Di situ pergolakan kapitalisme melawan marxisme terjadi dalam beberapa tahun, bahkan
sampai hari ini.
Di mana ada kapitalisme, di situ adalah marxisme dalam seperangkat perlawanan oleh
kelas bawah kepada kelas atas.
Seiring bergulirnya waktu,
kapitalisme klasik
mencoba mengubah wajah agar tampak lebih humanis dan tidak terlalu riskan. Spat kapitalismus atau kapitalisme
lanjut dengan wajah humanis berhasil mengalihkan fokus masyarakat pada
penguasaan alat-alat produksi menuju era budaya konsumerisme. Di sini, pengikut
sekaligus kritikus
Marx, Jean Baudrillard mengkritik pemikiran Marx tentang konsumsi. Marx
bertesis, dorongan konsumsi seseorang didasarkan pada nilai guna dan nilai
tukar. Oleh Baudrillard hal itu dikritik. Menurutnya, di era post-modern ini,
dorongan konsumsi bukan lagi berdasarkan nilai guna dan nilai tukar, tapi
berdasar nilai tanda dan nilai simbol.
Kapitalisme menciptakan era yang
oleh Baudrillard disebut masyarakat
konsumsi. Objek
konsumsi bukan berdasarkan pada nilai guna dan nilai tukar melainkan berdasarkan nilai tanda dan nilai simbol.
Budaya massa dicipta sehingga kelas borjouis dan proletar runtuh. Namun budaya
massa diisi oleh perilaku konsumsi setiap orang yang tidak lagi berdasar nilai
guna namun sudah mengarah pada nilai tanda dan simbolik.
Era sekarang atau lebih dikenal sebagai era postmodern
adalah era di mana kebenaran tidak bersifat tunggal. Budaya massa telah menjadi
bagian dari gaya hidup manusia yang tidak lagi mengenal sistem kelas. Di era
ini, entah borjuis entah proletar tidak lagi bisa dibedakan. Masyarakat
konsumsi dibangun oleh tindakan konsumsi yang sama. Ini kemudian memunculkan
semangat ke-aku-an untuk menujukkan diri di hadapan liyan. Budaya narsistik, selfie dan adaptasi menjalar dengan
cepat. Ketika dahulu yang bisa berfoto hanyalah orang
terkenal, sekarang siapa pun bisa berfoto.
Ketika dulu hanya artis yang bergeliat menabur pesona, kini setiap orang bebas
menjejaki dinding dan
halaman orang lain menampangkan wajahnya yang dibuat sok imut atau sedang berada di bibir kawah gunung.
Sebuah gaya swafoto yang tengah naik daun.
Budaya massa melahirkan apa yang oleh Baudirllard sebut
sebagai simulakra. Simulakra adalah ruang yang disarati oleh duplikasi dan daur ulang berbagai fragmen dunia
yang berbeda-beda (dalam wujud komoditi) di dalam ruang dan waktu yang sama. Ruang ini memungkinkan kita yang
berada di Indonesia, misalnya, untuk mengetahui dan mengikuti secara langsung
kejadian-kejadian aktual atau model-model yang sedang tren di Amerika. Hal
itu dapat kita lakukan dengan bantuan kecanggihan teknologi, berupa internet
ataupun televisi.
Di dalam ruang simulakra ini, tidak dapat dibedakan lagi antara yang
nyata dengan yang fiksi, yang asli dan yang palsu, sebab semuanya saling
bertubrukan dan melebur jadi satu. Tentang tema ini, ditulis secara khusus oleh
Baudrillard dalam bukunya yang berjudul Simulations (1983). Baudrillard menyebutkan bahwa dunia simulakra, dengan
adanya televisi, tampil secara sempurna. Dengan televisi, kita dapat melihat
dan mengikuti seperti apa kecantikan yang ditampilkan televisi dan bagaimana
cara mendapatkannya. Kita mengonsumsi apa yang ditayangkan di dalam televisi
seolah-olah itu adalah realitas yang sesungguhnya.
Sastre dan Eksistensi Perempuan
Jean Baudrillard pernah bicara tentang
keutuhan diri. “Saat
kosmetik melapisi wajahmu, saat itulah wajahmu terhapuskan. Wajahmu jadi tiada,
yang ada hanyalah kosmetik. Bibirmu tiada, yang ada hanyalah lipstick. Dan
kalau kau memainkan lenggak-lenggok idolamu, saat itu lenggak-lenggokmu hilang
menguap bersama citra idolamu. Saat itu, dirimu dikuasai oleh sesuatu di luar
dirimu untuk menjadi seseorang selain dirimu.”
Perempuan kehilangan dirinya
sendiri ketika produk-produk hasil kapitalis tersebut diyakini kebenarannya dan
diikuti. Saat itulah perempuan yang mengejar
kecantikan telah kehilangan eksistensi diri yang merupakan bagian penting dari
kesetaraan jender.
Oleh Jean Paul Sastre, subjektivitas
manusia terkait dengan eksistensinya dibagi menjadi dua, yaitu; etre en soi
(berada pada dirinya sendiri) dan etre pour soi (berada bagi dirinya
sendiri). Etre en soi berarti eksistensi manusia hanya sebagai objek
atas eksistensi orang lain. Sedangkan etre pour soi artinya manusia
adalah subjek yang memiliki kesadaran diri.
Manusia ketika
menjadi objek, artinya dia sedang dibendakan oleh eksistensi yang lain. Kondisi
etre en soi menyiratkan pesan bahwa seseorang belum sepenuhnya memiliki
kesadaran diri. Mungkin ia merasa memiliki kebebasan berekspresi, namun tatkala
ekspresi itu dibentuk oleh
eksistensi lain, seketika orang yang mengaku bebas berekspresi tersebut
kehilangan kebebasannya. Kebebasan yang terenggut oleh pembendaan dari
eksistensi lain. Orang lain adalah neraka, mempertaruhkan subjektivitas kepada
mereka adalah mauvaise foi (keyakinan yang buruk), begitu kata Sastre.
Ada dua pilihan besar dalam kehidupan manusia, yakni hidup
secara otentik ataukah hidup dengan mauvaise foi. Hidup secara otentik
memiliki signifikansi dalam upaya mendobrak berbagai konstruksi spat
kapitalismus. Artinya, manusia tak ambil pusing ketika ia dilabeli kuno
atau tak gaul lantaran tidak menggunakan produk terbaru kapitalis. Buat apa
ambil pusing bila dibilang kuno sedangkan yang menentukan ke-aku-an adalah aku
sendiri? Maka, terkait dengan upaya mereka untuk membebaskan diri dari label
kuno dengan senjata kecantikan, juga terkait dengan hobi berfoto-foto dan
menempatkan diri sebagai objek perhatian, para perempuan itu masih hidup dalam mauvaise foi. Mereka eksis demi menunjukkan eksistensinya pada eksistensi
lain, yang pada akhirnya justru merenggut subjektivitas mereka. Kemudian yang
tersisa hanya ada sebagai objek belaka, ada untuk dibendakan, ada sebagai komoditas!
Kesadaran adalah dasar gerakan
emansipasi, begitu kata Norman Fairclough. Tanpa itu, emansipasi tidak pernah
menemukan tujuan yang sebenarnya. Perempuan terus ditindas oleh stigma sosial
dan ajakan konsumerisme oleh industri. Sayangnya, kesadaran agaknya sulit
ditemukan di dunia yang gemerlap dan terang benderang oleh cahaya televisi dan
gawai. Perempuan harus kembali ke kamar yang gelap dan memulai mencari diri
sebenarnya, berpijak pada entre pour soi.
Mengutip Gail Dines, sosiolog dari Salford University, “Jika besok
perempuan bangun pagi dan memutuskan menyukai diri mereka apa adanya, coba
pikir, berapa banyak industri akan bangkrut”. Tapi jika sebaliknya, emansipasi
perempuan tak lebih dari sekadar retorika.



0 komentar:
Posting Komentar