Nasib
petani negeri ini di ujung tanduk. Meski berjuluk negara agraris, nyatanya
nasib petani selalu terpinggirkan. Petani selalu termarjinalkan, distigma
sebagai kaum kelas bawah. Meski gambar petani berkelindan di buku-buku anak
Sekolah Dasar (SD), nyatanya tak banyak generasi yang sudi jadi petani. Lebih
lanjutnya, petani yang selalu menyediakan pangan bagi manusia lain justru
diperlakukan semena-mena oleh negara. Menjadi petani di negeri ini justru
identik dengan sejuta kesialan.
Masalah
saat bertani pun tak kalah sialnya. Saat hendak menanam, petani terhadang
besarnya modal yang harus dikucurkan. Saat menanam, musuh petani adalah iklim
yang tak bisa diperhitungkan. Saat memanen, petani berhadapan dengan para
tengkulak dan permainan harga pasar. Alhasil, bertani tak cukup memberi untung,
justru kadang merugi berujung buntung.
Padahal
jika kita membandingkan nasib petani di negara lain, permasalahan-permasalahan
ini tidak pernah ditemui. Yang ada, petani ditempatkan sebagai pekerjaan yang
sangat terhormat. Tengoklah negara-negara seperti Amerika, Jepang, Belanda, dan
Australia. Nyaris tidak ada kasus bentrok petani dengan pemerintah yang
berujung penggusuran atau pembunuhan.
Lain
soal dengan negara ini. Di tahun 2015 saja, kasus bentrok pemerintah dengan
petani bahkan berujung hilangnya nyawa. Kasus bentrok petani dengan TNI di
Kebumen, kasus pembunuhan petani di Lumajang, penculikan petani di Kabupaten
Tebo, Jambi, dan masih banyak lagi. Yang masih hangat tentunya adalah bentrok
kepentingan antara petani dengan pengusaha di Kendeng. Perlawanan kurang lebih
dua tahun diperjuangkan sendiri oleh petani. Negara seakan abai, tidak hadir,
bahkan ikut bermain menciderai petani. Meski dalam setiap pidato dan kampanye
selalu menekankan akan mendorong kesejahteraan petani, namun faktanya tak lebih
sekadar omongan. Alhasil, kesejahteraan para petani tak kunjung didapatkan.
Yang ada justru semakin terpinggirkan.
Sekitar
56 persen dari 68 persen penduduk miskin di pedesaan adalah petani. Menurut
Badan Pusat Statistika (BPS), angka kemiskinan di pertanian mencapai 56,1
persen, jauh di atas industri (6,77 persen). Sebagai produsen pangan, petani
justru menjadi kelompok yang paling terancam oleh masalah rawan pangan. Sungguh,
ironi negeri beras.
Fakta-fakta
di atas membuat pekerjaan petani tak menarik minat generasi muda. Pertanyaan
besar pun menggantung, jika nasib seperti itu, mengapa masih menjadi petani.
Mengapa harus melawan pemerintah untuk sekadar mempertahankan tanah?
Tanah
Tahun
2009, seorang fotografer terkenal, Yann Arthus-Bertrand memproduseri sebuah
film dokumenter berjudul Home. Film
ini dibuat sebagai upaya peningkatan kesadaran publik mengenai pemanasan global
dan kelangsungan hidup bumi. Disertai dengan beragam data dan statistik, film
ini menghadirkan rekam sejarah bumi, realitas kini, sekaligus tantangan bumi ke
depan. Di film tersebut, pertanian juga disinggung, “pertanian adalah revolusi
terbesar manusia.” Hasil kerja peradaban dan kejeniusan yang paling berpengaruh
bagi kehidupan manusia di masa-masa mendatang.
Para
petani sangat menyadari hal itu. Sawah yang merupakan bagian dari tanah bukan sekadar benda mati. Bagi orang Jawa, tanah adalah pusaka. Tanah berharga
bukan karena nominalnya semata, tapi karena ada ikatan batin dengan pemiliknya.
Sebagaimana juga sawah, tetap dipertahankan bukan karena keuntungan, tapi lebih
dari itu, menyangga kehidupan.
Persepsi
orang Jawa memandang tanah bisa dilihat dari sejumlah ungkapan. Orang Jawa
menyebut tanah dengan sebutan siti.
Kata siti memiliki arti “sing
ati-ati”, “sing gemati.” Artinya, tanah adalah barang penting yang harus
dipelihara dengan hati-hati dan penuh perhatian. Siti juga kerap diasosiasikan
dengan nama perempuan, yang dimaknai sebagai kesuburan. Ungkapan sadumuk bathuk sanyari bumi
menggambarkan bahwa tanah juga sebuah kehormatan. Bagaikan bathuk (kepala), tanah adalah sesuatu yang sakral. Hanya
orang-orang pilihan yang diperkenankan menyentuhnya. Jika ada yang berani melanggar
itu, orang Jawa berikrar akan “ditohi pati”. Jika tanah direbut orang lain,
nyawa siap dipertaruhkan.
Tak
heran jika para petani berani menghadang penggusuran dan kesewenang-wenangan
penguasa. Tak jarang, perlawanan itu berujung pada kekerasan yang dilakukan
aparat kepada mereka. Kita bisa melihat bagaimana para petani di Kendeng
berjuang menjaga tanahnya dari usaha pendirian pabrik semen. Meski menjadi
petani tak pernah membuat mereka menjadi kaya, tapi sehidup semati mereka
mempertahankan tanahnya, sawahnya. Mereka meyakini, dalam setiap butir padi
yang mereka tanam akan menghasilkan beratus-ratus bulir padi. Padi itulah yang
kelak akan dimakan banyak orang. Padi itulah yang akan menjaga kehidupan. Mereka
bekerja untuk kemanusiaan.
Masanobu
Fukuoka, dalam bukunya Revolusi Sebatang
Jerami mengatakan, tujuan puncak bertani bukanlah hasil yang melimpah,
melainkan kesempurnaan manusia. Tak banyak dari kita yang memahami nilai-nilai
itu. Apalagi di era yang berlari cepat tak terkendali, hal-hal semacam itu
semakin terlupakan. Kita selalu mengira, kegiatan dan aktivitas dalam hidup
selama ini bisa membuat dunia lebih baik. Kita selalu mencipta teknologi
terbaru, terlibat kerja ilmiah, merancang banyak program seolah-olah itu
menyelamatkan kehidupan. Tapi sesungguhnya, tak ada yang bisa kita selamatkan.
Justru yang terjadi adalah kerusakan. Ini sesuai dengan yang digambarkan
Wordworth dalam bait-bait puisinya: Campur
tangan kaum intelek kita/ merusak bentuk-bentuk indah benda-benda/ Kita
membunuh untuk membedah.
Sedang
para petani, yang terus menerus dimarjinalkan, telah merawat kehidupan dengan
cara yang sederhana. Membumi. Para petani mungkin tak mengenal Kahlil Gibran.
Tapi ia memahami, bahwa alamku bukan alamku, melainkan hidup yang menjaga masa
depan anak-anakku, anak-anakmu.
Rubrik Gagasan Solopos (26/04/2016)



0 komentar:
Posting Komentar