Manusia bernama Soe Hok Gie agaknya saat ini
tengah risau atau justru ketawa-ketiwi sendiri di alam akhirat sana. Pasalnya, di Mimbar Mahasiswa Solopos tiga pekan terakhir ini selalu dihuni
oleh namanya serta gagasan-gagasan yang ia
telurkan. Dimulai dari tulisan Doni Wahyu Prabowo yang mengutip kalimat Soe Hok
Gie. Lalu di minggu selanjutnya, giliran Udji Kayang yang
berbicara mengenai kalimat Soe Hok Gie tentang dendam yang telah membatu. Dan
di minggu lalu, Muhammad Ilham pun juga menyinggung peran Soe Hok Gie.
Meski menggunakan gagasan Soe Hok Gie, ketiga
mahasiswa UNS tersebut menggunakan potongan-potongan gagasan Soe Hok Gie untuk
kemudian diintepretasi sesuai dengan pikirannya masing-masing. Alhasil, bantai
membantai opini di rubrik Mimbar Mahasiswa terjadi, meski memakai gagasan dari
satu manusia bernama Soe Hok Gie. Itu yang kemudian membuat saya berpikir,
agaknya, Soe Hok Gie di alam akhirat sana tengah memandang kelakuan
junior-juniornya, entah dengan perasaan risau atau justru
ketawa-ketiwi.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah
mengapa saling silang pendapat itu muncul meski menggunakan satu gagasan yang
sama? Agaknya Ilham yang mengecap Udji memiliki sinisme, atau Udji yang
mengecap Doni sebagai ironis, belum menyadari bahwa mereka dalam bingkai
kesatuan. Mereka berdua berbicara dalam konteks sebagai lawan bukan justru
sebagai kawan. Menganggap bahwa pabrik gagasan dan pergerakannya adalah yang paling
baik, saling menjatuhkan dan menistakan gerakan
liyan. Di satu pihak mengunggulkan gerakan kesunyian (baca: lewat tulisan) dan
di pihak lain mendewakan pergerakan demonstrasi.
Problem saling silang pendapat di atas
menunjukkan keterpisahan bahkan saling menjangkar perbedaan. Mereka tidak
menyadari adanya kesatuan, menyingkirkan fakta bahwa
sejarah Indonesia dibentuk bukan karena peran satu pihak semata, namun kedua
pihak yang bekerja sama dalam metode dan cara yang
berbeda. Dan saat ini, justru “metode dan cara” itu diperdebatkan, kacaunya
lagi menggunakan dalil-dalil orang yang telah meninggal dunia. Duh..duh,
kasihan sekali Soe Hok Gie. Saya tidak bisa membayangkan saat ini Soe Hok Gie
tengah bagaimana, risaukah atau justru ketawa-ketiwi kah?
Mendamaikan
keterpisahan
Psikoanalisis Erich Fromm bertesis bahwa
pasca manusia diturunkan/ dilahirkan ke dunia, ia menyadari keterpisahannya.
Keterpisahan itu menimbulkan kegelisahan. Terpisah artinya terputus, tidak ada
kemampuan untuk menggunakan potensi manusia. Tidak mampu memahami dunia secara
aktif. Oleh karena itu, manusia mencoba mengatasi keterpisahannya, bagaimana
cara mencapai penyatuan. Mencapai satu keutuhan, meninggalkan penjara
kesendiriannya.
Senyatanya, baik gerakan demonstrasi maupun
gerakan berbasis literasi memiliki porsi peran sama besar dalam satu lingkaran.
Tidak bisa satu pihak mengungguli pihak lain. Bung Hatta mengatakan, “sejarah
Indonesia adalah sejarah pemuda.” Lantas, pemuda yang mana yang dikatakan oleh
Hatta sebagai sejarah? Apakah hanya tiga pemuda “kurang ajar” dari perkumpulan
Menteng 31, Soekarni, Chaerul Saleh, dan Wikana saja? Atau informan pertama
penyebar berita kekalahan Jepang ke pusat kota, Sutan Syahrir yang hanya berani
mendesak tanpa berani melakukan tindakan kurang ajar seperti menculik Soekarno
Hatta?
Nyatanya, proses kemerdekaan negara ini
dibentuk oleh penyatuan dua gerakan yang mewakili pemuda. Syahrir sebagai
penyedia pistol dan peluru, sedang Soekarni, Chaerul Saleh, dan Wikana lah yang
menembakkan. Di sini, dua metode pergerakan yang berbeda disatukan sehingga
cita-cita kemerdekaan bisa terealisasikan.
Lihatlah pula Radhar Panca Dahana, ketika ia
menulis puisi yang terangkum apik berjudul “Manusia Istana: Sekumpulan Puisi
Politik”. Dalam puisi itu, Radhar mencoba menyentil praktik politik yang kaya
akan penyimpangan dan korupsi. Radhar
pun perlu melakukan gerakan nyata dan berani dengan menyodorkan langsung
karyanya ke depan mata para politisi yang duduk di birokrasi. Bayangkan saja, kalau semisal Radhar acuh terhadap hal itu,
tidak melakukan gerakan untuk langsung menyodorkan gagasannya ke depan mata
para politisi, tapi langsung menyerahkan hasil tulisannya ke percetakan dan membiarkan
semua pemasaran di urus penerbit. Yang ada, saya menjamin, tidak bakal sampai
pesan itu ke hadapan para politisi yang menjadi objek kritiknya. Paling-paling
ya hanya sampai di mata Udji yang sebenarnya bukan objek kritik utama karya
Radhar.
Di sini, kita bisa menyimpulkan bahwa
sebenarnya gerakan yang bersifat langsung dan gerakan tersembunyi memiliki
peran yang sama yang apabila bersatu
maka akan memberikan hantaman yang kuat. Apakah saya perlu bertanya, siapa musuh kita sebenarnya? Atau perlu saya
bertanya balik kepada Puisinya Wiji Thukul, “jan-jane, sopo sing mbok lawan kui?”
Konyolnya, aksi kedua orang yang saling
silang pendapat di Mimbar Mahasiswa beberapa pekan lalu tidak menyadari
potensinya kekuatan yang bisa diciptakan saat mereka bersatu. Justru malah
saling mengkritik bahwa gerakannyalah yang paling baik, paling berpengaruh,
paling punya efek. Padahal, kemerdekaan negara ini tidak bisa hadir tanpa komplotan Menteng 31, atau pun Menteng 31
tidak pernah bergerak tanpa informan sekelas Sutan Syahrir. Pun juga dengan
Radhar, tidak akan ada politisi yang mencatat list kegiatan hari ini untuk mampir ke toko buku dan membeli buku,
apalagi buku kritik politik Indonesia.
Hizkia Yosie Polimpung dalam acara bedah buku di Rumah
Buku Simpul Semarang menyadarkan saya mengenai pergerakan mahasiswa. Hizkia
bersama kawan-kawannya di Jaringan Riset Kolektif (JeRK) resah melihat gerakan
mahasiswa yang berdemonstrasi menuntut negara namun tanpa dasar
yang jelas. Asal pukul saja, asal koar-koar saja. Oleh sebab itu, Hizkia dan
kawan-kawan JeRK kemudian melakukan riset panjang untuk membedah secara ilmiah
sebuah kedaulatan negara. Hasilnya tertuang dalam buku “Asal Usul Kedaulatan”
yang dipersembahkan untuk para kawan-kawan yang memilih gerakan secara langsung
untuk dijadikan sebuah pedoman dasar mereka bergerak dan berkoar-koar. Di situ
saya melihat bahwa gerakan mahasiswa, baik langsung (demonstrasi) dan
tersembunyi (literasi) adalah kesatuan, bukan justru keterpisahan. Hanya
masalah metode dan caranya saja yang berbeda, namun secara inti dan tujuannya
sama. Saling melengkapi.
Satu hal yang ingin saya tanyakan kepada
kalian berdua, Udji dan Doni. Untuk Udji, apakah kamu mau berdemonstrasi
menyuarakan gagasanmu di depan gerbang birokrasi sana? Dan untuk Doni, apakah
kamu mau membeli buku dan membaca buku macam Albert
Camus, Karl Marx, Foucault, Poulo Freire, dan duduk di depan laptop untuk
mengetik sebuah esais kritis? Saya yakin, mereka berdua tidak mau!
Toh segalanya sudah jelas dari awal, ketika
Erich Fromm menjelaskan soal keterpisahan manusia saat mereka
diturunkan/dilahirkan ke dunia. Manusia selalu mencari penyatuan, oleh sebab
itu manusia membutuhkan manusia lain untuk menghilangkan perasaan
keterpisahannya. Laki-laki membutuhkan perempuan, perempuan membutuhkan
laki-laki. Di awal, laki-laki memang memberi dalam sebentuk sperma kepada
perempuan, namun kemudian perempuan juga memberi dalam bentuk buah hati (baca:
bayi) kepada laki-laki. Pun juga dengan gerakan mahasiswa, para aktivis gerakan
tersembunyi memberikan sebuah ide dan gagasan seperti yang dilakukan Hizkia
Yoshie bersama JeRK. Selanjutnya kawan-kawan gerakan demonstrasi yang
memperjuangkannya hingga sampai di depan mata objek yang dilawan.
Hanya ada satu kata, lawan! Dan ditambah satu frase lagi, “dengan cara masing-masing yang saling
melengkapi.”



0 komentar:
Posting Komentar