Home » » Monolog Kelam Hidup Nay

Monolog Kelam Hidup Nay


Di dunia yang condong pada sistem patriarkal ini, kesetaraan jender perempuan dan laki-laki menjadi berjarak. Berbagai tindakan, stigma, dan pandang yang merendahkan perempuan seolah diwariskan dari generasi ke generasi. Penindasan kaum perempuan mudah ditemui di berbagai penjuru dunia. Perempuan dipandang hanya sebatas budak seks, sebagai benda yang bisa dipermainkan dan ditukarkan oleh laki-laki.

Di Arab misalnya, sebelum Islam datang, perempuan berada dalam hierarki di bawah laki-laki. Bayi perempuan bahkan halal darahnya untuk dibunuh. Di dalam epos cerita India, kita mudah mendapati hadiah sayembara adalah perempuan, bukan laki-laki. Seolah perempuan pada zaman itu sejenis benda layaknya emas dan perhiasaan, sehingga bisa dipertukarkan. Memasuki periode modernisme, nasib perempuan pun tak kunjung membaik. Melalui pengekangan atas hak-hak pendidikan, politik, profesi, dan aspek lainnya, perempuan dibatasi dalam tembok besar keterbelakangan.

Tak heran jika pada setiap masa, selalu muncul tokoh yang memperjuangkan perempuan. Di abad ke-18, muncul nama Mary Wollstonecraft. Kemudian di abad ke-19 ada nama Virginia Wolf, dan abad ke-20, Simone de Beauvoir. Dua nama pertama pada akhirnya tak kuat lagi melawan. Pada tali gantungan, Wollstonecraft dan Wolf memasrahkan nyawa mereka ditikam maut. Beauvoir sedikit lebih beruntung, meski seumur hidup harus ditekan oleh stigma “wanita binal” karena hidup tanpa ikatan pernikahan dengan Jean Paul Sartre. Di Indonesia, pada masa kolonial, nama Raden Ajeng Kartini, Roehana Koeddoes, Arti Purbani muncul sebagai pendobrak tatanan budaya patriarkal. Melalui semangat emansipasinya, kini nasib perempuan Indonesia bisa lebih baik.

Namun, apakah semua perjuangan itu sudah selesai? Jika indikator keberhasilan perjuangan perempuan sebatas akses pada pendidikan, politik, ekonomi, dan sosial, bisa dikatakan sudah berhasil. Namun jika ditilik lebih mendalam, tindakan dan stigma itu masih mengakar, menjalar dalam ruang-ruang sosial yang lebih kecil, di balik tembok rumah-rumah. Di sini, Djenar Maesa Ayu hadir sebagai salah satu perempuan yang mencoba memunculkan realitas itu ke permukaan. Melalui film Nay (2015), Djenar memaparkan bagaimana penindasan perempuan belum selesai. Masih banyak perempuan yang mengalami diskriminasi fisik dan psikis. Tokoh Nay mencoba mewakili realitas dan penderitaan perempuan yang terkadang lepas dari perhatian.

Melalui penggalangan dana di situs crowdfounding wujudkan.com, film Nay berhasil diproduksi. Film berdurasi sekitar 80 menit ini hanya mengambil seting di dalam mobil. Hanya ada satu tokoh yang tampak, yakni Nay. Selebihnya, jalan cerita diisi oleh percakapan via ponsel dengan tokoh lain dan sesekali dengan halusinasi Nay.

Di dalam mobil itulah, Nay mementaskan drama kehidupannya yang getir. Nay terjebak dalam ruang waktu yang tak bisa diputar ulang atau mengintip sedetik saja kejadian yang akan datang. Setelah pemeriksaan di rumah sakit, Nay mengetahui jika janin yang dikandungnya sudah berumur 14 minggu. Nay lantas menghubungi pacarnya, Ben untuk meminta pertimbangan. Sayang, Ben tidak bisa mengambil sikap. Dalam ketidakpastian itu, produser yang menawarinya main film memberikan kepastian bahwa Nay terpilih menjadi pemeran utama. Tentu Nay sangat senang mendengar hal itu, sekaligus kembali bingung saat mengetahui kehamilannya.

Nay terjebak dalam dua pilihan, antara menggugurkan kandungan atau menjadi ibu tanpa kehadiran seorang ayah. Di momen ini, Nay mengenang masa lalu guna menimbang jawaban untuk masa depan. Masa lalu yang buruk adalah awal dari masa depan yang lebih buruk. Nay hidup dalam kondisi yang tak sempurna. Sebagai seorang anak, ia butuh sosok ayah. Namun ayahnya telah meninggal dan yang tersisa hanya ibu. Dalam sosok ibu, Nay tak menemukan keibuan karena sikap kasar dan egois sang ibu. Tak berhenti sampai di situ, Nay justru menjadi korban pemerkosaan yang dilakukan oleh pacar ibunya. Tak ada yang tersisa di hidup Nay selain penderitaan. Waktu tak bisa diulang. Ia tumbuh membawa luka, hidup menyandang cela.

Di film ini, Djenar mewakili penderitaan kaumnya melalui tokoh Nay. Dalam banyak kasus, kehidupan rumah tangga yang berantakan adalah awal sesuatu yang buruk. Tindak kekerasan dan pelecehan seksual yang marak terjadi, bahkan dilakukan oleh keluarga yang harusnya melindungi adalah kenyataan yang tidak serius ditanggapi aparat pemerintah. Sekadar berita dan berakhir sebatas komoditi. Bergaung di acara televisi, lantas diperbincangkan di kedai kopi, dan berhenti sebagai laporan di meja polisi. Hukum pun tak juga melindungi. Kekerasan dan pelecehan seksual, terutama pada perempuan sampai saat ini masih terus terjadi.

Erich Fromm, seorang psikolog humanisme bertesis, “jika kecenderungan untuk tumbuh dan berkembang dengan baik dihalangi, energi yang terhalang itu akan mengalami proses perubahan menjadi energi destruktif.” Fromm percaya bahwa setiap anak akan tumbuh menjadi baik jika dibantu dengan baik pula oleh keluarga. Jika justru yang terjadi sebaliknya, masalah itu akan berlanjut hingga dewasa. Kritik Djenar pada kondisi sosial dan tegaknya hukum mendapat penekanan khusus di sini. Kondisi tak pernah berubah selama tindak kekerasan dan pelecehan seksual tetap terjadi. Kerusakan fisik masih bisa disembuhkan, tapi tidak untuk luka psikis. Perempuan membawa serta luka psikis itu dalam etape waktu selanjutnya, bahkan diwariskan.

Meski dibawakan dengan konsep monolog dalam rentang waktu yang cukup lama, film ini tetap mampu menenggelamkan penikmatnya dalam pusara cerita. Sha Ine Febriyanti sebagai pemeran tokoh Nay dengan baik membawakan setiap perbincangan dalam alur cerita. Ekspresi tawa, sedih, tangis, kecewa juga umpatan-umpatan kasar menjadi bumbu yang bertebaran di film ini.

Namun, kelemahan dari film ini yang sangat vital. Film ini memuat pesan besar namun hanya disebar di beberapa bioskop tertentu saja. Di Jakarta, tak semua bioskop disambangi film ini, pun juga kota-kota lain. Alhasil, Gaung film ini pun tak terlalu besar. Artinya pesan-pesan yang ingin disampaikan Djenar tidak mampu menyentuh ke seluruh masyarakat. Padahal film ini bisa menjadi pengingat masyarakat dan pemerintah untuk lebih memperhatikan keluarga, perempuan, dan anak-anak. Bisa jadi, kekurangan penyebarluasan itu karena kendala pendanaan.

Di luar itu semua, film ini wajib ditonton sebagai sebuah refleksi kehidupan. Sampai saat ini, banyak perempuan masih berada dalam ketertindasan. Meski menanggung banyak luka oleh stigma, tindak kekerasan, dan pelecehan, toh perempuan masih tetap bertahan. Hidup sekenanya, sebisanya. Semangat hidup ini yang kadang luput dari perhatian publik.

Ah, senandung puisi Derai-derai Cemara Chairil Anwar lirih melantun: hidup hanya menunda kekalahan/ dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan/ sebelum pada akhirnya kita menyerah. Ya, perempuan-perempuan itu bertahan menunda kekalahan. Sebelum pasrah pada tali gantungan, tak kuasa melawan keras gelombang. Karena hidup bukan untuk mencari penghentian namun untuk melakukan perjalanan. 


Resensi hampir kalah (alias juara 3) dalam kompetisi Artikel Film Plimbi.com dan Forum Film Bandung Community (FFBC)

0 komentar:

Posting Komentar